25/04/2014

Apakah Amerika Menjatuhkan Irak?

Tentara Amerika

Oleh Adnan Khan

Pada Maret 2013, sudah genap 10 tahun serangan Amerika Serikat ke Irak. Setelah satu dekade rakyat Irak membangun kembali negaranya, kini Irak masih hancur. Pada April 2013, terjadi bentrokan mematikan antara pasukan pemerintah dengan demonstran di kota Hawija, reaksi ini karena seangan beruntun terhadap Irak. Sekarng situasi Irak terancam mengarah kepada situasi perang seperti peperangan tahun 2005-2007. Sejak April sampai Juni 2008, tercatat 712 warga irak terbunuh, berdasarkan United Nation Commission for Irak. Di akhir Mei 2013, lebih dari 200 orang terbunuh. Pada lingkungan Syia dan Suni, dan tempat-tempat ibadah telah menjadi target pada putaran kekerasan, pada waktu peperangan sipil. Sanksi-sanksi dari Amerika adalah alasan utama atas tuduhan penghancuran.

Serangan Amerika Serikat ke Irak sangat cepat kemudian berpindah pada suatu masalah yang sebagaimana diarahkan oleh Amerika Serikat, agar Irak menjadi wilayah yang penuh dengan konflik pemberontakan. Berdasarkan laporan Baker-Hamilton kepada kongres Amerika Serikat pada Desember 2006. Ini adalah cara Amerika Serikat untuk membuat rakyat Irak lupa atas permasalahan sesungguhnya. Hal ini telah jelas bahwa AS meng-underestimate musuh-musuhnya secara masif. Dan ketika hal ini dihapus dengan cepat oleh pasukan konvensional Irak, elemen-elemen yang lain di Irak telah memberikan pasukan AS kekuasaan. Laporan Baker-Hamilton dapat disimpulkan, bahwa situasi di Irak sangat gawat dan sangat mencemaskan. Pasukan AS kelihatan melihat untuk dilibatkan pada sebuah misi di mana lawan sudah tidak memiliki kekuatan. AS setuju dengan tiga cara ini : Ini didaftarkan untuk ditolong oleh perwakilan yang dibatasi oleh Irak-Turki, Syiria dan Iran ; ini dibagi menjadi beberapa tipe pemberontakan, pemberontakan etnosentris, dan pembentukan sebuah proses politik dengan pertolongan beberapa oportunis, group-group yang korup dan individu-individu.

Pemerintah Amerika Serikat telah merencanakan untuk menanamkan pengaruhnya dan mendominasi Irak untuk mengejar pengakuan secara de facto terhadap Irak menjadi tiga wilayah otonom, secara etnis dibagi menjadi wilayah kekuasaan Sunni, Kurdi dan Syia. Parleman dan dewan perwakilan Iran telah diatur oleh AS, pada pemilu Irak kemarin.

Pemilu parlemen pertama Iran dilaksanakan pada tahun 2005 yang sah secara institusional. Parlemen Irak terbelah menjadi dua yaitu United Iraqi Alience (UIA) dipimpin oleh Supreme Council for Islamic Revolution Irak, yang terdiri dari kelompok-kelompok Syia. Dan Democratic Patriotic Alliance of Kurdistan (DPAK), ini penggabungan yang sangat berbahaya, karena melemahkan perlawanan terhadap AS, dan sangat nudah sekalih diatur oleh AS.

Kondisi Irak terkini telah berkembang sejak pemilu 2010 yang dimenangkan oleh pihak Aliansi Iran. Politik di Irak sekarang adalah kompetisi kekuatan, sumber daya dan institusi negara. Sekarang kekuatan politik dan militer di Irak sangat dipusatkan pada kekuasaan Perdana Menteri Nuri Al-Maliki. Maliki memiliku kekuasaan dominan pada kancah militer dan politik Irak. Pada Desember Maliki melarang wakil perdana menteri Suni Saleh Al-Mutlaq untuk menghadiri rapat kabinet.

Keitidakstabilan Irak adalah hasil dari proses politik yang diarsiteki oleh AS. Namun biar bagaimanapun AS bukanlah satu-satunya penyebab ketidakstabilan di Irak, namun ada juga kelompok-kelompok oportunis yang memanfaatkan situasi ini.

diterjemahkan : yahya sudrajat