Home Tokoh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani,Imam Mujtahid Pejuang sampai akhir hayat

Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani,Imam Mujtahid Pejuang sampai akhir hayat

0 0

1. Nama Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dan Nasabnya.

Beliau adalah Abu Ibrahim Taqiyuddin Muhammad bin Ibrahim bin Mushthofa bin Ismail bin Yusuf bin Hasan bin Muhammad bin Nashiruddin an-Nabhani.[1]

Adapun nasab beliau, maka keluarga an-Nabhani yang kepadanya beliau dinasabkan termasuk di antara keluarga dari kalangan terhormat (mulia), yang hidup di desa (Ijzim), selatan kota Haifa, wilayah jajahan (Kiral Mahral) tahun 1949. Keluarga beliau adalah keluarga yang mulia, yang memiliki kedudukan tinggi dalam hal ilmu pengetahuan dan agama. Nasab keluarga beliau kembali pada keluarga besar (trah) an-Nabhani dari Kabilah al-Hanajirah di Bi’r as-Sab’a. Banu (keturunan) Nabhan merupakan orang kepercayaan Bani Samak dari keturunan Lakhm yang tersebar di wilayah-wilayah Palestina. Sedang Lakhm adalah Malik bin Adiy. Mereka memiliki bangsa dan suku yang banyak. Pada akhir abad ke-2 Masehi sekelompok dari Bani Lakhm tiba di Palestina bagian selatan. Bani Lakhm memiliki kebanggaan-kebanggaan yang teragung, dan di antaranya yang terkenal adalah Tamin ad-Dariy ash-Shahabiy.[2]

2. Kelahiran dan Pertumbuhan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani

Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dilahirkan di desa Ijzim pada tahun 1909 M. atau 1910 M.. Beliau tumbuh dan besar di rumah yang sangat memperhatikan ilmu dan agama. Ayah beliau Asy-Syeikh Ibrahim an-Nabhani adalah seorang Syeikh yang mutafaqqih fid din, dan sebagai tenaga pengajar ilmu-ilmu syariah di Kementrian Pendidikan Palestina. Sementara ibu beliau juga menguasai beberapa cabang ilmu syariah, yang diperolehnya dari ayahnya, Asy-Syeikh Yusuf an-Nabhani,[3] salah seorang di antara para ulama yang menonjol di Daulah Utsmaniyah. Asy-Syeikh Taqiyuddin mendapat perhatian dan pengawasan langsung kakeknya dari jalur ibunya, Asy-Syeikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani.

Sungguh pertumbuhan keagamaan yang dialami Asy-Syeikh Taqiyuddin berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadiannya, orientasi dan pandangan keagamaannya. Beliau telah hafal al-Qur’an di luar kepala sebelum beliau berumur 13 tahun. Beliau sangat terpengaruh dengan kesadaran kakeknya, Asy-Syeikh Yusuf. Beliau banyak belajar ilmu dari kakeknya yang mulia. Dan dari kakeknya pula, beliau banyak mengerti persoalan-persoalan politik yang penting, dimana kekeknya memiliki keahlian dalam hal ini. Beliau juga banyak belajar dari forum-forum dan diskusi-diskusi fiqih yang diadakan kakeknya, Asy-Syeikh Yusuf an-Nabhani, khususnya diskusi tentang orang-orang yang telah mengidolakan peradaban Barat. Kakeknya telah melihat tanda-tanda kecerdasan dan kejeniusannya, yaitu ketika Asy-Syeikh Taqiyuddin ikut dalam forum-forum ilmu. Sehingga perhatian sang kakek kepadanya sangat besar sekali.[4]

3. Ilmu dan Studi Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani

Asy-Syeikh Taqiyuddin belajar dasar-dasar ilmu syariah dari ayah dan kakeknya. Beliau telah hafal al-Qur’an seluruhnya sebelum baligh. Di samping itu, beliau juga belajar di sekolah negeri an-Nizhomiyah di daerah Ijzim untuk sekolah tingkat dasar. Kemudian, beliau melanjutkan studinya ke sekolah tingkat menengah di Akka. Belum selesai studinya pada tingkat menegahnya di Akka, beliau pergi ke Kairo untuk meneruskan studinya di Al-Azhar, guna merealisasikan keinginan kakeknya, Asy-Syeikh Yusuf an-Nabhani, yang telah menyakinkan ayahnya tentang pentingnya mengirim Asy-Syeikh Taqiyuddin ke Al-Azhar untuk melanjutkan pendidikan agamanya. Kemudian, Asy-Syeikh Taqiyuddin meneruskan pendidikan tingkat menengahnya di Al-Azhar pada tahun 1928, dan pada tahun yang sama beliau lulus dan memperoleh ijazah dengan predikat sangat memuaskan.

Setelah lulus dari sekolah tingkat menengah, lalu Asy-Syeikh Taqiyuddin melanjutkan studinya di Fakultas Darul Ulum, yang ketika itu masih merupakan filial Al-Azhar. Di samping itu, beliau juga aktif menghadiri kelompok-kelompok kajian (halaqoh-halaqoh) ilmiyah di Al-Azhar, yang diadakan oleh para asy-Syeikh, seperti yang telah disarankan oleh kakeknya, di antaranya, kelompok kajian yang diadakan Asy-Syeikh Muhammad al-Hidhir Husain. Hal itu dimungkinkan karena sistem pengajaran yang lama di Al-Azhar membolehkannya. Di mana para mahasiswa dapat memilih beberapa Asy-Syeikh Al-Azhar dan menghadiri halaqoh-halaqoh mereka mengenai bahasa dan ilmu-ilmu syariah, di antaranya fiqih, ushul fiqih, hadits, tafsir, tauhid (ilmu kalam), dan yang sejenisnya.

Asy-Syeikh Taqiyuddin selesai kuliahnya di Fakultas Darul Ulum tahun 1932 M.. Dan pada tahun yang sama, beliau juga selesai kuliahnya di Al-Azhar sesuai dengan sistem yang lama. Meskipun, Asy-Syeikh Taqiyuddin menghimpun sistem Al-Azhar yang lama dengan Darul Ulum, namun beliau tetap menampakkan keunggulan dan keistimewaannya dalam hal kesunguhan dan ketekunannya dalam belajar.

Asy-Syeikh Taqiyuddin sangat menarik perhatian kawan-kawannya, para dosennya karena kecermatannya dalam berpikir dan kuatnya pendapat, serta kuatnya hujjah yang dilontarkan dalam perdebatan-perdebatan, dan diskusi-diskusi pemikiran, baik yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga ilmu yang ada saat itu di Kairo maupun di negeri-negeri Islam lainnya. Asy-Syeikh Taqiyuddin juga dikenal keistimewaannya, karena beliau sangatlah bersungguh-sungguh, tekun dan bersemangat dalam memanfaatkan waktunya untuk menimba ilmu dan belajar[5].

4. Ijazah-Ijazah yang Diperoleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani

Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani memperoleh banyak Ijazah, yaitu: Ijazah dengan predikat sangat memuaskan dari sekolah tingkat menengah (ast-tsanawiyah) Al-Azhar, Diploma jurusan bahasa Arab dan sastranya dari Fakultas Darul Ulum Kairo, dan Diploma dari al-Ma’had al-Ali li al-Qadha’ asy-Syar’iy filial Al-Azhar jurusan peradilan. Tahun 1932 beliau lulus dari Al-Azhar dengan memperoleh asy-Syahadah al’’Alamiyah (Ijazah setingkat Doktor) pada jurusan syariah.[6]

5. Di antara Karakteristik dan Sifat Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani

Al-Ustadz (Profesor) Zahir Kahalah—Direktur Administratif Fakultas al-Ilmiyah al-Islamiyah. Di mana, beliau ini selalu menemani Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani sejak menginjakkan kakinya di dunia fakultas—menceritakan tentang sifat Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani: bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang yang jujur, mulia, bersih, ikhlas, bersemangat, bergelora dan merasa pedih atas apa yang menimpa umat Islam akibat dari ditanamnya institusi Israil di dalam jantung mereka. Beliau seorang yang sedang perawakannya, kuat fisiknya, penuh semangat, cepat marah, pandai dalam perdebatan, yang jika berargumentasi mematikan, dan tegas dengan sesuatu yang diyakininya benar. Beliau berjenggot sedang bercampur uban serta selalu berpakaian dengan pakaian para ulama: jubah, qufthan (pakaian panjang dipakai di atas jubah), dan sorban. Beliau seorang yang berkepribadian kuat, bicaranya menyentuh, dan argumentasinya menyakinkan. Beliau sangat benci dengan perbuatan yang sia-sia, kurangnya percaya diri, serta ketidakpedulian terhadap kemaslahatan umat. Beliau juga sangat membenci seseorang yang hanya sibuk dengan kepentingannya sendiri dan tidak beraktivitas untuk kebaikan umat…. Beliau mengkritik para ulama Syam yang hanya tenggelam dengan emosional-emosional keagamaan dan tidak bergerak dalam lingkaran aktivitas-aktivitas politik Islam.[7]

Sementara karakteristik aktivitas beliau di bidang pengajaran, al-Ustadz (Profesor) Zahir Kahalah menceritakan bahwa “Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani mengajarkan materi tsaqofah Islam pada sekolah menengah kelas tiga, mengingat pada saat itu merupakan tahapan pertumbuhan sensitivitas yang akan membentuk pola pikir siswa. Sehingga beliau melaksanakan aktivitasnya dengan sebaik mungkin. Beliau melakukan aktivitas ini siang malam dengan kebiasaan yang mengagumkan. Aktivitas ini beliau jalankan hingga beliau meletakkan jabatan sebagai tenaga pengajar di Fakultas pada akhir tahun 1952 M.. Sungguh metode pengajarannya sangat sukses menghasilkan sesuatu yang positif dalam di para siswanya. Sehingga para siswanya sangat mencintai kajian-kajian tsaqofah Islam yang menjadikan mereka memiliki berbagai persiapan untuk mengkritisi setiap pemikiran-pemikiran asing yang masuk ke dalam Islam. Begitu juga, kecintaan mereka terhadap kajian-kajian tsaqofah Islam akan membentuk landasan berfikir, yang dengannya mereka mampu mencerminkan ajaran-ajaran Islam dan mengembannya ke seluruh dunia”.[8]

Begitu juga, apa yang digambarkan oleh salah seorang sahabat beliau, selama beliau menetap di Lebanon, iamenceritakan bahwa “Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang yang bertakwa dan mulia seperti namanya. Beliau seorang yang mampu menjaga pandangan matanya dan lisannya. Dan aku belum pernah mendengar darinya pada suatu hari bahwa beliau memcaci, mencela atau menghina salah seorang di antara kaum muslimin, khususnya para pengemban dakwah Islam, meski mereka berbeda hasil ijtihadnya”.[9]

6. Bidang Pekerjaan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dan Jabatannya

Bidang pekerjaan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahinahullahu wa ta’ala terbatas antara pendidikan dan peradilan (qadha’). Beliau banyak menduduki jabatan pada dua bidang ini. Al-Ustadz (Profesor) Ihsan Samarah menceritakan: Setelah selesai studinya, Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani kembali ke Palestina untuk bekerja di Kementrian Pendidikan Palestina[10] sebagai tenaga pengajar pada sekolah menengah an-Nidzomiyah di Haifa, di samping beliau juga mengajar di sekolah al-Islamiyah yang juga di Haifa. Beliau berpindah-pindah lebih dari satu kota dan sekolah sejak tahun 1932 M. hingga tahun 1938 M.. Dimana beliau mengajukan permohonan untuk bekerja di Mahkamah Syariah. Tampaknya beliau lebih suka bekerja di bidang peradilan (qadha’), sebab beliau menyaksikan bahwa pengaruh penjajahan Barat di bidang pendidikan jauh lebih banyak daripada pengaruhnya di bidang peradilan, khususnya, peradilan syariah. Dalam hal ini beliau berkata: “… Adapun golongan terpelajar, maka para penjajah di sekolah-sekolah misionarisnya sebelum adanya pendudukan, dan di seluruh sekolah setelah adanya pendudukan, telah menetapkan sendiri kurikulum-kurikulum pendidikan dan tsaqofah (kebudayaan) berdasarkan filsafatnya, serta peradabannya dan konsep-konsep kehidupannya yang khas. Kemudian kepribadian ala Barat dijadikan dasar yang akan mencabut tsaqofah (dari umat Islam). Sebagaimana sejarah dan kebangkitan Barat dijadikan sumber utama, yang dengannya mereka mencuci otak kita… “.[11]

Oleh karena itu, Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani lebih mengutamakan untuk menjauh dan meninggalkan bidang pendidikan pada Kementrian Pendidikan. Beliau mulai mencari dan mengkaji pekerjaan lain yang lebih sedikit mendapatkan pengaruh Barat. Beliau tidak menemukan yang lebih baik dari Mahkamah Syariah. Sebab, Mahkamah Syariah seperti yang beliau lihat masih menerapkan hukum-hukum syara’. Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani berkata: “… Adapun sistem sosial yang mengatur hubungan pria dan wanita, serta apa saja yang timbul dari adanya hubungan ini, yakni masalah-masalah perdata, maka Mahkamah Syariah masih menerapkan syari’at Islam hingga sekarang, meski adanya penjajahan dan pemerintahan kufur. Secara umum hingga sekarang belum pernah diterapkan selain syari’at Islam… “.[12]

Berdasarkan hal itu, maka Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani lebih antusias dan lebih senang bekerja di Mahkamah Syariah,[13] di mana banyak di antara teman-teman beliau yang dulu sama-sama belajar di Al-Azhar Asy-Syarif juga bekerja disana. Sehingga dengan bantuan mereka, Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani akhirnya diangkat sebagai sekretaris di Mahkamah Syariah Beisan, lalu beliau dipindah ke Thabriya.

Namun demikian, cita-cita dan pengetahuan beliau di bidang peradilan mendorongnya untuk mengajukan kepada Al-Majlis Al-Islamiy Al-A’la (Dewan Tertinggi Islam) sebuah nota permohonan yang isinya menuntut agar berlaku adil kepadanya, dengan memberikan haknya. Di mana beliau percaya bahwa dirinya punya kompetensi untuk menduduki jabatan peradilan. Setelah para pimpinan peradilan memperhatikan nota permohonannya, mereka memutuskan untuk memindahnya ke Haifa dengan jabatan sebagai Kepala Sekretaris (Basy Katib), tepatnya di Mahkamah Syariah Haifa. Kemudian tahun 1940 beliau diangkat sebagai Musyawir, yakni asisten qadhi. Beliau tetap dengan jabatan itu hingga tahun 1945, di mana beliau dipindah ke Mahkamah Syariah di Ramallah, dan beliau tetap disana hingga tahun 1948. Setelah itu beliau pergi meninggalkan Ramallah menuju Syam sebagai akibat dari jatuhnya Palestina ke tangan Yahudi.

Pada tahun 1948 itu juga, sahabatnya Al-Ustadz Anwar al-Khatib mengirim surat kepada beliau yang isinya meminta beliau agar kembali ke Palestina untuk dianggkat sebagai qadhi di Mahkamah Syariah Al-Quds. Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani  mengabulkan permintaan sahabatnya itu. Dan beliau pun diangkat sebagai qadhi di Mahkamah Syariah Al-Quds tahun 1948. Kemudian, Kepala Mahkamah Syariah dan Kepala Mahkamah Isti’naf yang ketika itu dijabat oleh Yang Mulia Al-Ustadz Abdul Hamid as-Sa’ih memilihnya sebagai anggota di Mahkamah Isti’naf (Pengadilan Banding). Beliau tetap menduduki jabatan itu hingga tahun 1950, di mana beliau mengajukansuratpengunduran diri, akibat dari pencalonan diri beliau di Dewan Perwakilan.

Kemudian, pada tahun 1951, Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani datang ke Amman, dan bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas al-Ilmiyah al-Islamiyah. Beliau rahimahullah dipilih untuk mengajar materi tsaqofah Islam bagi para mahasiawa tingkat dua di Fakultas tersebut. Aktivitasnya ini terus berlangsung hingga awal tahun 1953, di mana beliau mulai sibuk dengan aktivitas Hizbut Tahrir yang telah beliau rintis antara tahun 1949 hingga tahun 1953.[14]

7. Mendirikan Hizbut Tahrir

Barangkali peristiwa yang paling menonjol dalam sejarah kehidupan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullahu ta’ala adalah berdirinya Hizbut Tahrir. Di sisi kami tidak akan membicarakan tahapan-tahapan terbentuknya Hizbut Tahrir. Sebab kami telah membuat bahasan tersendiri terkait dengan hal itu. Namun, kami ingin membahas tentang unsur-unsur terpenting yang dimiliki Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, yaitu unsus-unsur yang menjadikan beliau punya posisi penting dan istimewa dalam sejarah para pengemban dakwah yang beraktivitas demi tegaknya amaga ini, yaitu dengan mendirikan Hizbut Tahrir yang hingga kini masih tetap berdiri di atas dasar yang dibuat sendiri oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah. Unsur-unsur utama itu di antaranya:

  1. Lingkungan keagamaan (al-bi’ah ad-diniyah) di mana Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dilahirkan dan dibesarkan. Sungguh kami memperhatikan bagaimana beliau mulai sejak kecil telah ditanamkan agama dan kencintaan kepadanya di bawah asuhan ayahnya, ibunya, dan kakeknya dari jalur ibu, Asy-Syeikh Yusuf an-Nabhani. Hal ini memberi pengaruh besar bagi Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam meretas jalan yang akan ditempuhnya di masa selanjutnya.
  2. Posisi keilmuan dan politik yang digeluti Asy-Syeikh Yusuf an-Nabhani berpengaruh besar terhadap tumbuhnya kesadaran politik Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dengan begitu cepatnya. Sehingga tidak lama kemudian menjadikan beliau berada di barisan para politisi yang telah teruji dan berpengalaman. Bahkan, Al-Ustadz Ihsan Samarah berkata: “Pendek kata bahwa kehidupan politik Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani merupakan cermin di antara kepribadian-kepribadian beliau yang menonjol. Sehingga menjadi seakan-akan beliau itu adalah Hizbut Tahrir. Ketika diketahui bahwa beliau memiliki kompetensi di atas rata-rata dalam melakukan analisa politik, yang tercermin pada kuatnya selebaran-selebaran politik yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir. Begitu juga, beliau dikenal memiliki pengetahuan yang luas terhadap kejadian-kejadian politik, serta cermat dalam memahaminya, di samping kesadaran yang sempurna atas situasi dan kondisi serta pemikiran-pemikiran politik, kesungguhan mengawasi selebaran-selebaran politik HizbutTahrir, buku-buku politik yang dikeluarkan oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah, dan garis-garis besar politik yang dikeluarkan untuk mengkader syabab Hizbut Tahrir secara politik. Ini membuktikan kemampuan politik yang luar biasa yang sedang digeluti oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani.[15]
  3. Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani benar-benar menyaksikan dan merasakan sendiri bencana runtuhnya Khilafah, musibah-musibah yang menimpa umat Islam, tercerai-berainya tubuh mereka, rakusnya penjajah terhadap mereka, dan jatuhnya Palestina tahun 1948 ke tangan kelompok gangster Yahudi; suksesnya serangan pemikiran dan peradaban, serta sikap para ulama kaum muslimin yang hanya menggunakan retorika-retorika pembelaan terhadap Islam dalam menghadapai serangan yang genting ini, bahkan mereka mena’wikan nash-nash Islam, yang justru turut membantu memperkuat pemikiran Barat, sebaliknya menggoncang kepercayaan umat terhadap Islam sebagai sebuah sistem kehidupan. Sehingga, Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahulah di sela-sela studinya di al-Azhar bertanya, menguji dan mengkaji tentang sebab keadaan yang menimpa kaum muslimin, serta menguji dan mengkaji metode yang benar untuk mengubah realitas yang rusak ini, di samping itu mengembalikan bangunan istanah yang tinggi (Khilafah Islam), yang telah dihancurkannya oleh orang-orang kafir.[16]
  4. Pendidikan dan ilmu Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani yang diperoleh dari ayah dan kakeknya, ditambah berbagai disiplin ilmu yang beliau himpun selama masa studinya di Al-Azhar dengan sistemnya yang lama dan yang baru telah memberi peluang yang cukup besar kepada Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani untuk meneliti dan mengkaji berbagai gerakan lama, utamanya gerakan-gerakan baru yang berusaha melakukan perbaikan. Hal inilah yang banyak membantu langkan beliau selanjutnya dalam menyusun garis-garis pokok bagi sebuah kelompok partai yang akan beraktivitas membangkitkan umat.
  5. Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani selama masa studinya di Al-Azhan, serta aktivitasnya di bidang pendidikan dan peradilan mampu mengenal banyak karakteristik ulama, ahli fikir dan politisi, yang darinya dibentuk landasan utama bagi partai yang akan didirikannya.

Perkara-perkara ini semuanya terkumpul dalam diri Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, sementara hasilnya, Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah telah meningalkan untuk kita “Partai yang besar, kuat dan tersebar luas, serta menjadikan partai ini sebagai kekuatan Islam yang luar biasa yang benar-benar diperhitungkan oleh para pemikir dan para politisi, baik lokal maupun internasional, meski ia termasuk di antara partai-partai yang dilarang di setiap negeri di dunia”.[17]

8. Karya-karya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani

Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani meninggalkan banyak buku-buku penting, yang dianggap sebagai peninggalan intelektual yang luar biasa dan tak ternilai harganya. Karya-karya beliau ini menunjukkan bahwa beliau merupakan sosok pribadi yang pikiran dan sensitivitasnya di atas rata-rata dan tiada duanya. Beliaulah yang menulis setiap pemikiran dan konsep Hizbut Tahrir, baik yang terkait hukum-hukum syara’ maupun yang terkait masalah-masalah pemikiran, politik, ekonomi dan sosial. Dan inilah yang mendorong sebagian peneliti untuk mengatakan bahwa Hizbut Tahrir itu adalah Taqiyuddin an-Nabhani.

Karya-karya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani kebanyak berupa buku-buku yang sifatnya pembentukan teori (tanzhiriyah) dan pembuatan rencana (tanzhimiyah), atau buku-buku yang isinya dimaksudkan sebagai seruan untuk melanjutkan kembali kehidupan yang islami (sesuai syariat Islam), dengan terlebih dahulu menegakkan Daulah Islamiyah (Negara Islam).[18] Al-Ustadz Dawud Hamdan menggambarkan karya-karya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dengan gambaran yang mendalam dan tepat. Beliau berkata: “Sungguh karya-karya beliau ini merupakan buku-buku dakwah (seruan) yang dimaksudkan untuk membangkitkan kaum muslimin dengan melanjutkan kembali kehidupan yang islami, dan mengemban dakwah Islam”.[19]

Oleh karena itu, buku-buku karya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani menjadi istimewa dan unik, disebabkan isinya yang komprehensih mencakup semua aspek kehidupan dan problematika manusia, baik aspek kehidupan individu khususnya, maupun aspek politik, perundang-undangan, sosial dan ekonomi pada umumnya. Selanjutnya karya-karya beliau ini dijadikan dalil (landasan) pemikiran dan politis bagi Hizbut Tahrir, di mana Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani sebagai motornya.

Karena banyaknya bidang-bidang kajian dalam buku-buku yang ditulis oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, maka hasil pemikirannya yang berupa buku jumlahnya lebih dari 30 buah buku. Ini tidak termasuk nota-nota politis yang berisi pemecahan terhadap problem-problem yang sifatnya politik, serta penyususnan rencana yang urgen. Dan banyak lagi selebaran-selebaran dan penjelasan-penjelasan yang sifatnya pemikiran dan politik yang penting. Karya-karya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani menjadi istimewa karena ditulis dengan penuh kesadaran, kecermatan, dan kejelasan, di samping metodologinya yang khas yang menonjolkan Islam sebagai sebuah teori idiologis yang konprehensif, yang digali dari dalil-dalil syar’iy yang terkandung dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Karya-karya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani yang sifatnya pemikiran,  dianggap sebagai sebuah usaha keras pertama, yang dipersembahkan oleh seorang pemikir muslim dengan metodenya yang khas pada era modern ini.[20]

 

 

a. Karya-karya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani yang Paling Terkenal

Karya-karya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani yang paling terkenalmenonjol, yang berisiskan pemikiran-pemikiran dan ijtihad-ijtihad beliau, yaitu: (1) Nizhom al-Islam, (2) at-Takattul al-Hizbiy, (3) Mafahim Hizb at-Tahrir, (4) an-Nizhom al-Iqtishadiy fi al-Islam, (5) an-Nizhom al-Ijtima’iy fi al-Islam, (6) Nizhom al-Hukm fi al-Islam, (7) ad-Dustur, (8) Muqaddimah ad-Dustur, (9) ad-Daulah al-Islamiyah, (10) asy-Syakhshiyah al-Islamiyah tiga jilid, (11) Mafahim Siyasah li al-Hizb at-Tahrir, (12) Nazhorat as-Siyasiyah, (13) Nida’ Har, (14) al-Khilafah, (15) at-Tafkir, (16) al-Kurrasah, (17) Sur’ah al-Badihah, (18) Nuqthah al-Intilaq, (19) Dukhul al-Mujtama’, (20) Inqadz al-Filasthin, (21) Risalah al-Arab, (22) Tasalluh Mishr, (23) al-Ittifaqiyat ats-Tsuna’iyah al-Mishriyah as-Suriyah wa al-Yamaniyah, (24) Halla Qadhiyah Filasthin ala ath-Thariqah al-Amirikiyah wa al-Injiliziyah, (25) Nazhoriyah al-Faragh as-Siyasiy haula Iznahawur, (26) as-Siyasah al-Iqtishadi al-Mutsla, (27) Naqdhu al-Istirakiyan al-Markisiyah, (28) Kaifa Hudimat al-Khilafah, (29) Nizhom al-Uqubat, (30) Ahkam ash-Shalah, (31) Ahkam al-Bayyinat, (32) al-Fikr al-Islamiy, (33) Naqdh al-Qanun al-Madaniy.[21] Di samping itu, masih ada ribuan selebaran yang sifatnya pemikiran, politik dan ekonomi.[22]

Dengan melihat karya-karya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah yang spektakuler ini, maka kedudukan apa yang pantas bangi beliau! Banyak di antara buku-buku beliau yang dikeluarkan atas nama anggota Hizbut Tahrir, dengan tujuan agar buku-buku itu mudah disebarluaskan, setelah adanya undang-undang yang melarang buku-buku beliau dan peredarannya. Di antara buku-buku itu adalah: Naqdh al-Qanun al-Madaniy, Ahkam ash-Shalah, al-Fikr al-Islamiy, as-Siyasah al-Iqtishadi al-Mutsla, Naqdhu al-Istirakiyan al-Markisiyah, Kaifa Hudimat al-Khilafah, Ahkam al-Bayyinat, dan Nizhom al-Uqubat.[23]

b. Perdebatan seputar Penisbatan Karya-karya pada Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani

Mengingat kebanyakan buku-buku Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah buku-buku Hizbut Tahrir, maka harus tahu hubungan anggota-anggota Hizbut Tahrir yang lain dengan warisan tsaqofah (budaya) ini. Artinya, apakah buku-buku itu ditulis sendirian oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, atau beliau dibantu oleh sebagian anggota Hizbut-Tahrir yang lain?

Auni Juduk dalam bukunya Hizb at-Tahrir al-Islamiy menuturkan bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah yang menulis semua pemikiran dan konsep Hizbut Tahrir, baik yang terkait dengan hukum syara’maupun yang terkait dengan persoalan pemikiran, politik, ekonomi dan sosial. Kemudian ia menambahkan bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam menulis buku-bukunya dibantu oleh anggota Hizbut Tahrir. Di mana Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani yang menulis konsep (draf) dan yang membuat gari-garis besarnya, lalu diserahkan kepada para pemikir Hizbut Tahrir yang senior, merekalah selanjutnya yang memberikan catatan-catatan dan komentar hingga menjadi jelas dengan gambaran final, seperti yang diterbitkannya. Namun, pernyataan ini menjadi tidak jelas, bahkan kontradiksi jika dikonfrontir dengan pendapatnya juga di tempat lain dari bukunya (Hizb at-Tahrir al-Islamiy), di mana ia menyatakan bahwa ada banyak orang yang turut andil dalam penyusunan konsep-konsep (draf) untuk buku-buku Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani.[24]

Menurut analisa saya yang jelas bahwa keraguan ini terjadi pada Auni Juduk karena pernyataan Asy-Syeikh DR. Abdul Aziz al-Khayyath. Sebab ketika berbicara tentang karya-karya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, ia berkata: “Sesungguhnya kitab asy-Syakhshiyah sebagian besar adalah nota-nota yang ditulis oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, dan beberapa koreksinya. Begitu juga ada beberapa pemikiran yang saya kritisi dan saya koreksi. Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani mendiktikan dan menjelaskan nota-nota itu kepada para mahasiswanya di Fakultas al-Ilmiyah al-Islamiyah. Draf-draf untuk nota-nota ini dan beberapa koreksinya yang ditulis tangan oleh Asy-Syeikh rahimahullah hingga saat ini masih saya simpan”.[25]

Begitu juga, ketika Asy-Syeikh DR. Abdul Aziz al-Khayyath berbicara tentang karya-karyaHizbut Tahrir,iaberkata: “Sehubungan dengan karya-karya Hizbut Tahrir yang menggunakan nama Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, saya nyatakan ada dua kebenaran yang harus dijelaskan:

Pertama, Hizbut Tahrir terpaksa mengeluarkan buku-bukunya atas nama Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, sebab aktivitas Hizbut Tahrir masih sifatnya rahasia dan khawatir. Seandainya karya-karya itu dikeluarkan atas nama Hizbut Tahrir, niscaya akan segera disita. Namun, dikeluarkannya karya-karya itu dengan nama Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani untuk menghindari adanya penyiataan.

Kedua, sesungguhnya buku-buku itu ditulis oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dan anggota Hizbut Tahrir yang tergolong ulama. Kemudian dikaji dan dipelajari oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dan sekelompok ulama hingga menjadi jelas dan terang dengan bentuknya yang final, yang disepakati oleh semuanya. Setelah itu dikeluarkan atas nama Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, atau dengan nama lain, dan tidak jarang menggunakan nama samaran. Apa yang disebutkan oleh DR. Himam Said bahwa karya-karya itu ditulis sendirian oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah tidak benar. Seperti yang saya katakan di awal bahwa saya masih menyimpan draf-draf (konsep) sebagian kitab yang ditulis untuk Hizbut Tahrir, seperti kitab asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, ketika Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani mengajar di Fakultas al-Ilmiyah al-Islamiyah di Amman”.[26]

Bagi saya perkataan Asy-Syeikh al-Khayyath ini memiliki beberapa catatan:

  1. Pernyataannnya: “Hizbut Tahrir terpaksa mengeluarkan buku-bukunya atas nama Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, disebabkan aktivitas Hizbut Tahrir yang sifatnya masih rahasia dan khawatir. Seandainya karya-karya itu dikeluarkan atas nama Hizbut Tahrir, niscaya akan segera disita…” Ia menggambarkan bahwa aktivitas Hizbut Tahrir sifatnya masih rahasia. Ini berbeda dengan apa yang ia katakan sendiri: “Sedang faktanya bahwa aktivitasnya—yakni Hizbut Tahrir—adalah terang-terangan tidak sembunyi-sembunyi dalam berdakwah, halaqoh-halaqoh, dan diskusi-diskusi, meski tidak ada legalitas bagi Hizbut Tahrir untuk melakukan aktivitas kepartaian”.[27]
  2. Asy-Syeikh al-Khayyath beralasan bahwa dikeluarkannya buku-buku Hizbut Tahrir atas nama Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani karena khawatir disita. Sedang faktanya bahwa Hizbut Tahrir menjaga produk-produk yang dikeluarkannya, yang tergolong mutabannat, seperti buku-buku dan selebaran-selebaran dengan identitas Hizbut Tahrir untuk membedakannya, dan agar diketahui bahwa buku-buku ini dan isinya merupakan pemikiran-pemikiran Hizbut Tahrir. Kalau kita kembalikan masalahnya pada buku-buku yang dikeluarkan tidak dengan nama Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, niscaya kita dapati bahwa buku-buku itu semuanya bukan buku-buku mutabannat bagi Hizbut Tahrir.[28]
  3. Tidak diragukan lagi bahwa setelah buku-buku Hizbut Tahrir dilarang, maka keberadaannya menjadi terancam. Namun seperti yang dikemukakan oleh al-Ustadz Ihsan Samarah sebelumnya bahwa terkait dengan karya-karya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dikeluarkan undang-undang yang melarang peredaran dan penyebaran buku-buku beliau. Sehingga buku-buku beliau dikeluarkan dengan nama orang lain. Ia menyebutkan di antara buku-buku itu ialah al-Fikr al-Islamiy dan Ahkam ash-Shalah.[29] Ketika saya lihat kembali kedua  naskah buku ini, saya dapati keduanya diterbitkan pada tahun 1377 H./1958 M., sehingga pelarangan masih menyertainya karena pelarangan terhadap Hizbut Tahrir, apalagi Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani ketika itu merupakan pemimpin Hizbut Tahrir.
  4. Di sini ada perkara penting yang tidak diperhatikannya. Asy-Syeikh al-Khayyath menyebutkan bahwa ia masih menyimpan draf-draf (konsep) yang ditulinya untuk Hizbut Tahrir. Adanya pembuatan draf-draf (konsep) ini tidak berarti penting bahwa Hizbut Tahrir tergantung kepadanya. Tambahan lagi ia tidak menyebutkan kecuali satu buku saja di antara sekian banyak buku-buku Hizbut Tahrir yang ia susun drafnya, yaitu hanya buku asy-Syakhshiyah. Terkait dengan buku ini, ia telah menggambarkan sendiri dengan perkataannya: “Sesungguhnya kitab asy-Syakhshiyah sebagian besar adalah nota-nota yang ditulis oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, dan beberapa koreksinya. Begitu juga ada beberapa pemikiran yang saya kritisi dan saya koreksi. Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani mendiktikan dan menjelaskan nota-nota itu kepada para mahasiswanya di Fakultas al-Ilmiyah al-Islamiyah. Draf-draf (konsep) untuk nota-nota ini dan beberapa koreksinya yang ditulis tangan oleh Asy-Syeikh rahimahullah hingga saat ini masih saya simpan”. Dengan begitu, Asy-Syeikh al-Khayyath tidak membuat draf-draf buku ini, akan tetapi ia membuat draf untuk nota-nota ini, yakni sesungguhnya Asy-Syeikh al-Khayyath adalah yang menulis dan membukukan gagasan yang dikemukakan oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ziyad Salamah ketika ia berkata: “Pada tahun 1952 M. Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani mengeluarkan buku asy-Syakhshiyah al-Islamiyah. Tahun berikutnya dikeluarkan juga buku Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dengan judul yang sama, namun isinya secara umum berbeda dengan buku sebelumnya. Mungkin, buku yang dikeluarkan pertama tahun 1952 M. adalah buku seperti yang dinyatakan oleh Asy-Syeikh kita yang mulia—yakni Asy-Syeikh Abdul Aziz al-Khayyath—bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani mengajarkan pada para mahasiswanya di Fakultas al-Ilmiyah al-Islamiyah, di mana Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani bekerja di Fakultas tersebut sebagai tenaga pengajar materi tsaqofah Islamiyah pada Tahun Pelajaran 1951-1952 M..”[30]

Abdullah Muhammad Mahmud berkata: “Yang benar—seharusnya—perkataan: pada sebagian draf-draf (konsep) buku-buku beliau, atau salah satu draf-draf (konsep) buku-buku beliau, sebab sang Doktor—yakni Abdul Aziz al-Khayyath—tidak menyebutkan kecuali kitab asy-Syakhshiyah al-Islamiyah. Ia pun berkata ‘sebagian besar’ bukan ‘semuanya’. Kalau pun hal ini terjadi, bukanlah suatu aib (keburukan), melainkan kebaikan di antara kebaikan-kebaikan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah. Di mana beliau dikenal biasa menyodorkan apa yang sedang ditulisnya kepada para anggota Hizbut Tahrir dan para ulamanya, sebelum ditetapkan dengan bentuknya yang final. Dengan demikian, ide-idenya dikeluarkan dengan jelas dan benar tanpa ada kesamaran meski satu huruf sekalipun, yang pada akhirnya memberikan kepuasan yang sempurna. Bahkan, beliau juga dikenal, sebagaimana yang dinyatakan dengan jelas oleh DR. Abdul Aziz al-Khayyath, bahwa beliau senantiasa berdiskusi, membahas, dan meneliti lebih dari sepuluh tahun, sebelum beliau memutuskan untuk mendirikan Hizbut Tahrir. Dengan begitu, Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani banyak melakukan diskusi, termasuk di antaranya dengan DR. Abdul Aziz al-Khayyath dan yang lainnya, sejak tahun 1946…. Maka, demi kepercayaan dan kebenaran sejarah, saya berharap kepada DR. Abdul Aziz al-Khayyath untuk menjelaskan apakah sebagian besar yang ia susun adalah draf-draf (konsep) kitab asy-Syakhshiyah al-Islamiyah yang tiga jilid itu, atau ia adalah sebuah buku yang namanya asy-Syakhshiyah, sementara isinya berbeda dengan kitab asy-Syakhshiyah al-Islamiyah yang terdiri dari tiga jilid. Sebab semua tahu bahwa kitab asy-Syakhshiyah al-Islamiyah terdiri dari tiga jilid: jilid pertama membahas tentang akidah dan pemikiran Islam; jilid kedua membahas tentang hukum-hukum syara’ dengan beragam persoalan, mulai dari problem-problem pemerintahan hingga muamalat (hukum syara’ yang mengatur kepentingan individu dengan yang lainnya); dan jilid ketiga membahas tentang ushul fiqih. Sedang, dua jilid yang terakhir, yakni jilid kedua dan ketiga baru dikeluarkan pada dekade enampuluhan, di mana DR. Abdul Aziz al-Khayyath sudah tidak lagi bergabung dengan Hizbut Tahrir”.[31]

Dari apa yang dijelaskan di atas, saya berpendapat bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhanilah yang menyusun kitab-kitab Hizbut Tahrir. Adapun partisipasi para anggota Hizbut Tahrir yang lain, maka hal itu tidak jauh dari apa yang disebutkan oleh Al-Ustadz Ghanim Abduh, bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam menulis buku-bukunya dibantu oleh anggota Hizbut Tahrir. Di mana Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani yang menulis konsep (draf) dan yang membuat gari-garis besarnya, lalu diserahkan kepada para pemikir Hizbut Tahrir yang senior, merekalah selanjutnya yang memberikan catatan-catatan dan komentar hingga menjadi jelas dengan gambaran final, seperti yang diterbitkannya. Apa yang disebutkan oleh Al-Ustadz Ghanim Abduh ini lebih pas dari pada yang dikatakan oleh DR. Abdul Aziz al-Khayyath. Sebab, Al-Ustadz Ghanim Abduh lebih lama bersentuhan dengan Hizbut Tahrir. Bahkan, ia tetap bersama Hizbut Tahrir hingga tahun 1965 M., di mana ia tidak lagi bersama Hizbut Tahrir karena ada perbedaan pendapat dengan Hizbut Tahrir seputar beberapa persoalan.[32]

Jadi, partisipasi anggota Hizbut Tahrir dalam penulisan kitab-kitab ini tidak lebih dari bentuk peninjauan ulang dan perbaikan (revisi) sebelum diterbitkan. Dan dalam hal ini tidaklah aneh, sebab orang yang membaca kitab-kitab Hizbut Tahrir akan menemukan kesesuaian yang jelas di antara kitab-kitab ini, dalam memaparkan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum, apapun persoalannya. Bagi saya, sama saja, apakah kita katakan bahwa kitab-kitab ini disusun oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, oleh anggota Hizbut Tahrir, atau disusun oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dengan dibantu para anggota Hizbut Tahrir, semuanya adalah kitab-kitab Hizbut Tahrir.

9. Akidah Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, Madzhab, dan Ijtihadnya

Meskipun Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani sangat hati-hati dengan sektarianisme, namun beliau berpendapat bahwa Madzhab Ja’fariy (salah satu madzhab Syi’ah) merupakan salah satu dari sekian banyak madzhab (aliran) dalam Islam, sebab ushul (dasar) yang menjadi sandarannya, baik dalam persoalan akidah maupun hukum paling dekat dengan Ahlussunnah waljama’ah di banding yang lainnya. Sehubungan dengan akidah Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, maka kami dapat menyimpulkan melalui pembahasan terhadap topik-topik akidah Islam yang terdapat dalam kitab beliau asy-Syakhshiyah al-Islamiyan jilid pertama, beliau rahimahullah menjelaskan bahwa rukun iman itu ada enam: iman kepada Allah, iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada para Rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qadha’ dan qadar, di mana baik buruk keduanya dari Allah Swt.. Dan hal itu kami temukan juga ketika membahas topik: al-‘Ishmah (kesucian dari kesalahan dan kekeliruan), wahyu[33] dan lainnya.

Sedang madzhab Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, maka belum ditemukan sumber yang jelas, yang menjelaskan tentang madzhab beliau. Namun dapat kami katakan bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani madzhabnya adalah Syafi’iy. Pendapat ini didasarkan pada bahwa sejak kecil beliau telah dididik oleh kakeknya, Yusuf an-Nabhani, sedang Yusuf an-Nabhani madzhabnya adalah Syafi’iy.[34]

Sebelumnya telah disebutkan bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani belajar di Al-Azhar. Beliau memadukan dua sistem Al-Azhar yang lama dan sistem yang baru di Darul Ulum. Beliau memperlihatkan keunggulan dan keistimewaan dalam hal keseriusan dan kesungguhannya. Beliau mempelajari kitab-kitab yang ada di perpustakaan Al-Azhar ketika itu, mulai dari bahasa, ushul fiqih hingga bidang-bidang yang lainnya. Dari pengkajian dan penelitian beliau yang luas ini, maka memungkinkan bagi beliau untuk membuat kaidah-kaidah khas beliau sendiri dalam ilmu ushul fiqih yang didasarkan pada kuatnya dalil yang menurut penilaian beliau paling rajih (kuat). Beliau mengkritisi banyak kaidah syara’ dengan menjelaskan kesalahan beberapa kaidah, menjelaskan keabsahan sebagian, dan meluruskan sebagian yang lain. Beliau membatasi sumber-sumber syari’at (hukum) Islam dengan empat sumber saja: al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qiyas. Sebab hanya empat sumber inilah sumber-sumber syari’at yang didukung oleh dalil qath’i (dalil yang kebenarannya tidak ada yang meragukan). Sedangkan sumber-sumber yang lain, yang tidak didukung oleh dalil-dalil syara’yang tidak diragukan kehujjahanya, maka beliau tinggalkan. Dalam pandangan beliau, persoalan sumber-sumber syari’at persis dengan persoalan akidah bahwa dalam menetapkannya harus didukung oleh dalil-dalil syara’yang tidak diragukan. Sementara metode ijtihad beliau didasarkan pada pertama meneliti fakta dan memahami realita, baru kemudian mempelajari nash-nash syara’ yang terkait dengan fakta dan realita ini, serta memeriksanya untuk memperkuat bahwa nash-nash tersebut datang membawa hukum atas realita yang hendak dipecahkannya, selanjutnya memahami makna-makna nash sesuai data-data bahasa Arab, setelah itu baru ditetapkan hukum syara’ yang diambil dari nash-nash ini. Sehingga, konsisten dengan metode ini dalam berijtihad menjadikan ketenangan dan kepuasan senantiasa menyertainya, bahwa hukum-hukum yang digalinya adalah hukum-hukum syara’ yang ditopang dengan kekuatan dalil syara’. Oleh karena itu, beberapa peneliti menganggap Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani seorang mujtahid muthlaq.

Termasuk keistimewaan metode Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam menggali hukum dan berijtihad adalah menjadikan realita sebagai tempat berfikir bukan sumber bagi penetapan hukumnya, menundukkan realita untuk dipecahkan dengan hukum syara’, dan membentuk realita sejalan dengan Islam, serta tidak menjadikan hukum syara’ mengikuti realita, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para ulama kontemporer yang sering menarik ulur nash-nash untuk menyesuaikan dengan realita, serta untuk menyenangkan nafsu para penguasa. Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani tidak tergolong di antara orang-orang yang melihat bahwa pendapatnya saja yang benar sementara pendapat orang lain bathil (salah) apalagi sesat, tetapi beliau melihat pendapatnya benar namun tidak menutup kemungkinan salah, sebaliknya pendapat orang lain salah namun tidak menutup kemungkinan benar. Inilah yang menjadikan beliau banyak mendengarkan pendapat-pendapat yang lain, mengkaji dan menelitinya, meski beliau tetap percaya dengan pendapatnya.[35]

10. Posisi Keilmuan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani

Posisi keilmuan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani terlihat dengan jelas sekali melalui karya-karyanya yang beragam, yang mencakup semua kebutuhan-kebutuhan hidup yang amat sangat diperlukan umat di jalan kebangkitan, dan mengembalikan kedudukan umat Islam pada kedudukan yang seharusnya di antara umat-umat yang lain. Dari karya-karya ini tampak bahwa beliau berupaya melakukan pembaharuan yang belum pernah dilakukan sebelumnya di berbagai bidang: pemikiran, fiqih, dan politik. Oleh karena itu, karya-karya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani yang sifatnya pemikiran dianggap sebagai sebuah usaha keras pertama yang dipersembahkan oleh seorang pemikir muslim dengan metodenya yang khas pada era modern ini. Dengan begitu, Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah merupakan tokoh di antara tokoh pemikir dan politik pada abad dua puluh. Sehingga tidaklah aneh jika setelah itu ada orang yang memasukkan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah dalam golongan ulama mujtahid mujaddid.[36]

Al-Ustadz Ghanim Abduh—salah seorang anggota Hizbut Tahrir senior yang terkenal—menceritakan bahwa Sayyid Quthub rahimahulah menyanjung dan memuji Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani di salah satu forum ilmiyah yang beliau pimpinnya. Sanjungan dan pujian beliau ini merupakan bentuk penolakan atas sikap banyak orang yang mulai menyerang dan merendahkan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani. Di antara pernyataan Sayyid Quthub terkait Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani: “Sesungguhnya Asy-Syeikh ini—yakni Taqiyuddin an-Nabhani—dengan kitab-kitabnya telah sampai pada derajat ulama-ulama kita terdahulu”.[37] Al-Ustadz DR. Muhammad bin Abdullah al-Masari menggambarkan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dengan perkataan: “Tokoh pembaharu, teladan para ulama yang ikhlas dalam beramal: al-Alim al-Mujahid dan al-Imam ar-Rabbani Abi Ibrahim Taqiyuddin an-Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir). Beliaulah yang telah meletakkan batu pondasi untuk pemikiran Islam modern yang luhur dan pergerakan yang ikhlas yang memiliki kesadaran tinggi. Semoga Allah mengangkat derajatnya bersama para Nabi, shiddiqin, para syahid dan orang-orang shaleh”.[38]

11. Wafatnya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani

Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani enggan hidup sebagai penulis yang karya-karyanya hanya untuk melengkapi koleksi perpustakaan-perpustakaan, pengarang yang hasilnya hanya untuk dipelajari, peneliti yang hanya sebatas menemukan kebenaran, berkarir di bidang politik, atau sebagai pengajar politik, namun beliau ingin hidup sebagai peneliti dan penulis untuk menyadarkan umat dan membangkitkannya berdasarkan Islam, memerangi serangan pemikiran dan peradaban yang telah merasuk ke tengah-tengah para pelajar dalam waktu yang lama, berusaha keras membebaskan umat dari penjajahan pemikiran, frustasi dan serangan budaya, selanjutnya mengurusi urusan umat dengan Islam, setelah umat kembali lagi percaya dengan Islam dan solusi-solusinya.

Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah menegaskan bahwa berkelompok dan berorganisasi harus di atas ideologi, agar ikatannya dalam berpartai adalah ikatan ideologis bukan ikatan (hubungan) pribadi. Sebab, hanya dengan cara ini dapat dijamin keberlangsungan dan kesatuan (keutuhan) partai, serta kelurusan kepemimpinan yang memimpinnya. Dengan ikatan ideologis ini, siapapun tidak memiliki otoritas selain terikat dengan fikroh dan thoriqoh (pemikiran dan pelaksanaannya), juga penilaian atas orang-orang yang tergabung dalam partai itu hanya berdasarkan pelayanan dan pegabdiannya terhadap ideologi, serta kreatifitasnya dalam merealisasikan tujuannya, dan menyatunya  dengan pemikirannya.

Oleh karena itu, Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah menolak kepribadiannya dan ilmunya dijadikan topik pembahasan dan diskusi. Namun, meski demikian, Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah mengharuskan dirinya menyelami berbagai bidang pengetahuan, sehingga menghasilkan karya-karya ilmiyah yang istimewa meliputi bidang fiqih, pemikiran dan politik. Dengan begitu, Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah merupakan tokoh di antara tokoh pemikir dan politik pada abad dua puluh.[39]

Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani menghabiskan dua dekade kehidupannya yang terakhir sebagai orang yang terasing, terusir dan buronan yang dijatuhi hukuman mati.[40] Namun, semua itu tidak menghalanginya dari beraktivitas secara terus-menerus, serta kegiatan-kegiatan secara serius dan tekun, dalam rangka menyebarkan pemikiran-pemikiran Hizbut Tahrir yang beliau dirikan, dan merealisasikan tujuannya berupa kembalinya kehidupan yang sesuai syari’at Islam dengan terlebih dahulu mendirikan Khilafah di atas metode kenabian. Kalau bukan karena Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani yang menghidupkan kembali pemikiran (ide) Khilafah di tengah-tengah umat setelah lama tertutup debu dan kotoran kebodohan, tentu maslahnya lain. Wallahu a’lam.

Seorang anggota Majlis Palestina, Muhammad Dawud Audah menceritakan bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang yang fakir, dan beliau wafat dalam keadaan fakir. Beliau tinggal di lantai limapada sebuah apartemen. Beliau dengan rendah hati menaiki apatemennya dengan jalan kaki, sebab di apartemen itu masih belum ada lift.[41]

Di awal-awal dekade tujuh puluhan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani pergi ke Irak. Beliau ditahan tidak lama setelah adanya kampanye besar-besaran penangkapan terhadap para anggota Hizbut Tahrir di Irak. Namun para penguasa tidak mengetahui bahwa beliau adalah Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani pemimpin Hizbut Tahrir. Beliau disiksa dengan siksaan yang keras hingga beliau tidak mampu lagi berdiri karena banyaknya siksaan. Bahkan beliau merupakan tahanan terakhir di antara tahanan Hizbut Tahrir yang mereka bantu untuk berdiri ketika dikembalikan ke penjara. Beliau terus-menerus mendapatkan siksaan hingga beliau mengalami kelumpuhan setengah badan (hemiplegia). Kemudian beliau dibebaskan dan segera ke Lebanon. Di Lebanon beliau mengalami kelumpuhan pada otak. Tidak lama kemudian beliau dilarikan ke rumah sakit dengan menggunakan nama samaran. Dan di rumah sakit inilah Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullahu wa ta’ala wafat. Beliau dikebumikan di pekuburan asy-Syuhada di Hirsy Beirut di bawah pengawasan yang sangat ketat, dan dihadiri hanya sedikit orang di antara keluarganya.

Tentang tanggal wafatnya masih simpang siur. Sebagian peneliti menyebutkan bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani wafat pada tanggal 25 Rajab 1397 H./20 Juni 1977 M.. Pernyataan ini masih perlu dipertanyakan, sebab tanggal 25 Rajab 1397 H. tidak bertepatan dengan tanggal 20 Juni 1977 M., melainkan tanggal 30 Juni. Sedang koran ad-Dustur menyebutkan bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani wafat pada hari Kamis 19 Muharram 1398 H./29 Desember 1977 M.. Mungkin saja tangal ini bukan tanggal wafatnya beliau, melainkan tanggal dipublikasikannya pengumuman kematian di koran, sebab Hizbut Tahrir mengumumkan kematian beliau dalam bayan (penjelasan) bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani wafat pada tangga 1 Muharram 1398 H. atau tanggal 11 Desember 1977 M.. Dan ini yang lebih dipercaya untuk dijadikan pegangan.[42]

Sungguh ada sesuatu yang cukup menyakitkan, yang menambah kesedihan hati yang begitu berduka atas hilangnya orang yang alim, mulia, dan pemikir untuk pembebasan, yaitu apa yang diceritakan oleh asy-Syeikh DR. Abdul Aziz al-Khayyath bahwa semua media cetak di neger-negeri Arab dan negeri-negeri Islam menolak untuk mempublikasikan berita meninggalnya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani. Asy-Syeikh al-Khayyath berkata: “Saya ingat bahwa saya berusaha kepada koran ad-Dustur dan pemimpin redaksinya ketika itu agar mempublikasikan sebuah berita duka, dan ia baru mau memenuhi keinginanku setelah didesak, dan akhirnya dipublikasikan dengan beberapa baris kecil—dan itupun diletakkan di belakang salah satu halaman—berita tengan wafatnya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani.[43]



[1] Lihat. Mafhum al-‘Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikri al-Islami al-Mu’ashirah, hlm. 140; selebaran dengan judul I’lan li Jami’i asy-Syabab, Hizbut Tahrir, 11 Shafar 1423 H./13 April 2003 M..

[2] Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 35, mengutip dari kitab al-Qabail al-Arabiyah wa Salailiha fi Biladina Filasthin, karya Mushthofa Murad ad-Dibagh, hlm. 134,135, 149.

[3] Asy-Syeikh Yusuf an-Nabhani (1265 H. – 1350 H./1849 M. – 1932 M.). Beliau adalah Asy-Syeikh Yusuf bin Ismail bin Yusuf bin Ismail bin Hasan bin Muhammad an-Nabhani asy-Syafi’i. julukannya Abul Mahasin. Beliau seorang penyair, sastrawan, sufi dan salah seorang qadhi yang terkemuka. Nasabnya pada kabilah Bani Nabhan, satu kabilah Arab penghuni padang sahara di Palestina. Mereka bermukim di daerah Ijzim—dengan shighot amar—wilayah Haifa, Palestina Selatan. Di sinilah beliau dilahirkan dan dibesarkan. Beliau belajar di Al-Azhar, Mesir (1283 – 1289 H.). Beliau memimpin peradilan (qadha’) di Qushban Janin, wilayah Nablus. Kemudian beliau berpindah ke Konstantinopel. Beliau bekerja sebagai redaktur dan editor surat kabar al-Jawanib. Beliau diangkat sebagai qadhi di Kawa Sinjiq, wilayah Moshul. Beliau kebali ke negeri Syam (1269 H.). Beliau berpindah-pindah bekrja di peradilan hingga beliau menjabat sebagai Ketua Mahlamah al-Huquq di Beirut (1305 H.). Di Beirut ini beliau tinggal lebih dari sepuluh tahun. Kemudian beliau pergi ke kota-kota tetangga, ketika itu perang dunia pertama sedang berkecamuk. Lalu beliau kembali ke tempat kelahirannya, Ijzim. Di Ijzim ini beliau wafat, 29 Ramadhan 1350 H.. Asy-Syeikh Yusuf an-Nabhani banyak meninggalkan kekayaan intelektual. Beliau menulis di bidang tashawuf, sastra, hadits, sejarah dan tafsir. Di Dar Kutub al-Mishriyah ditemukan sekitar 67 kitab karya beliau. Dan sebagian besar kitabnya ditulis ketika beliau tinggal di Beirut, 48 di antaranya telah dicetak, yang sebagian besar dicetak di Beirut dan Kairo. (Lihat. Al-A’lam, Khoiruddin Zarkali, Dar al-Ilmi li al-Malayin, Beirut, cet. XV, 2002, juz VIII, hlm. 218; dan Mu’jam al-Muallafin, Umar Ridho Kahalah, Dar Ihya’ at-Turats al-Arabi dan Maktabah al-Mutsna,Beirut, tanpa tahun, juz XXXI, hlm. 275.). Ketika saya mengkompromikan nasab Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dengan nasab kakeknya dari jalur ibu, maka kami perhatikan kedua orang tua Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani ternyata masih sepupu.

[4] Lihat. Mafhum al-‘Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikri al-Islami al-Mu’ashirah, hlm. 140, 141, 144; Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 46; dan asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani Fikran wa Kifahan, ceramah disampaikan oleh al-Ustadz Bakar Salim al-Khowalidah, ketua Lajnah Tsaqofiyah Hizbut Tahrir di Majma’ al-Nuqabat al-Mihniyah, di Amman, 5 Agustus 1992 M., hlm. 8.

[5] Lihat. Mafhum al-‘Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikri al-Islami al-Mu’ashirah, hlm. 141, 142; asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani Fikran wa Kifahan, hlm. 19; dan Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 48.

[6] Lihat. Mafhum al-‘Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikri al-Islami al-Mu’ashirah, hlm. 141, 142; dan Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 48, 126, 127.

[7] Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 51; asy-Syeikh Abdul Aziz al-Khayyath memberi catatan kaki atas apa yang diceritakan oleh Zahir Kahalah terkait dengan pakaian asy-Syeikh Taqiyuddin, menurutnya: “… yang benar bahwa asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani memakai jubah di atas  rompi dan celana panjang. Saya belum pernah melihatnya memakai qufthan. Barangkali yang dimaksud oleh Zahir Kahalah itu pada masa kecilnya”. Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 12. Antara pernyataan Zahir Kahalah dan al-Khayyath tidak perlu dipertentangkan, sebab ini persoalan kemungkinan. Mungkin Zahir Kahalah melihat asy-Syeikh Taqiyuddin pada suatu keadaan memakai pakaian seperti yang ia ceritakan. Sementara al-Khayyath dalam keadaan yang lain melihatnya memakai pakaian seperti yang ia nyatakan.

[8]  Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 50, 51.

[9]   Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 111, 112.

[10] Asy-Syeikh Abdul Aziz al-Khayyath menyebutkan bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani bekerja sebagai tenaga pengajar di Departemen Pendidikan Palestina, bukan di Kemenetrian Pendidikan Palestina. Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 11.

[11]  Lihat. Ad-Daulah al-Islamiyah, hlm. 199.

[12]  Lihat. An-Nizhom al-Islam, 46.

[13] Tentang persoalan ini Asy-Syeikh Abdul Aziz al-Khayyath berpendapat berbeda: “Alasan bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani lebih mengutamakan bekerja di Mahkamah Syariah dari pada bekerja di Kementrian Pendidikan Palestina itu tidak benar. Sebab, sepengetahuanku terhadap Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani justru menunjukkan hal yang berbeda. Beliau malah banyak mendorong para syabab (kader Hizbut Tarhrir) agar banyak melakukan aktivitas pendidikan dan pengajaran, sebab dengan cara itu memungkinkan bagi mereka menanamkan pemikiran-pemikiran Islam ke dalam pola pikir dan pola sikap mereka, serta memerangi upaya-upaya menyingkirkan pemikiran-pemikiran Islam dari kurikulum dan buku-buku pelajaran. Menurut pendapatku bahwa beliau memilih bekerja di Mahkamah Syariah karena melihat pada para alumni dari al-Azhar ketika itu, di mana otoritas pemerintahan otonom menempatkannya di Palestina”. Lihat. Hizb at-tahrir al-Islami, hlm. 11. Pernyataan al-Khayyath dikuatkan lagi dengan perhatian Hizbut Tahrir yang terpusat pada para pelajar dan mahasiswa, mengingat sebagian besar anggota Hizbut Tahrir adalah di antara para guru dan dosen, sehingga dengan memanfaatkan posisinya, mereka lebih mudah menyampaikan pemikiran-pemikiran Hizbut Tahrir kepada para pelajar dan mahasiswanya. Lihat. Hizb at-tahrir al-Islami, hlm. 62.

[14] Lihat. Mafhum al-Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikr al-Islamiy al-Mu’ashir, hlm. 142 – 144; dan Hizb at-tahrir al-Islamiy, hlm. 50.

[15]  Lihat. Mafhum al-Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikr al-Islamiy al-Mu’ashir, hlm. 148 – 149.

[16] Lihat. Mafhum al-Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikr al-Islamiy al-Mu’ashir, hlm. 144; dan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani Fikran wa Kifahan, hlm. 8.

[17] Lihat. Mafhum al-Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikr al-Islamiy al-Mu’ashir, hlm. 148; dan Hizb at-Tahrir al-Islamiy, hlm. 113.

[18] Lihat. Mafhum al-Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikr al-Islamiy al-Mu’ashir, hlm. 149.

[19] Lihat. Ad-Daulah al-Islamiyah, Taqiyuddin an-Nabhani, dikeluarkan Hizbut Tahrir, edisi bahasa Arab, cet. III, tanpa tahun, hlm. 6.

[20] Lihat. Mafhum al-Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikr al-Islamiy al-Mu’ashir, hlm. 150.

[21] Buku Naqdh al-Qanun al-Madaniy (bantahan terhadap undang-undang sipil) merupakan pidato yang disampaikan oleh Asy-Syeikh Ahmad ad-Da’ur, ketika beliau menjadi wakil rakyat di Parlemen Yordania. Pidato beliau berisikan tentang bantahan beliau terhadap undang-undang sipil tahun 1374 H./1955 M.. Sebenarnya, Asy-Syeikh Ahmad ad-Da’ur menunggu dokumen bantahan atas UUD dari Asy-Syeikh Taqiyuddin, namun karena suatu hal, yakni sikap pemerintah yang represif, serta adanya pengawasan super ketat terhadap rumah beliau oleh para intelejen Yordania, maka Asy-Syeikh Taqiyuddin tidak dapat mengirimkan dokumen kepada beliau. Kemudian, karena kecerdasan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, beliau mengirim dokumen melalui pegawai parlemen. Sehingga, pada saat parlemen duduk untuk menyampaikan pidato tanggapan, maka dari atas kursinya, Asy-Syeikh Ahmad ad-Da’ur menyerang UUD, di samping menyerangnya, beliau juga menjelsakan hukum Allah terkait hal itu. Lihat. Silsilah Afkar Yajibu an Tushahhiha (3), al-Intikhabat baina al-Islam wa ad-Dimuqrathiyah, dikeluarkan oleh Lajnah Tsaqofiyah Hizbut Tahrir, wilayah Irak, 1426 H./2005 M., hlm. 24.

[22] Lihat. Mafhum al-Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikr al-Islamiy al-Mu’ashir, hlm. 150-151; Atsar al-Jama’at al-Islamiyah al-Maidaniy khilala al-Qarni al-Isyrin, hlm. 233; Hizb at-Tahrir al-Islamiy, hlm. 99-101; Hizb at-Tahrir, dikeluarkan Hizbut Tahrir, 1305 H./1985 M., hlm. 17-18; dan al-Millaf al-Idariy, hlm. 82 dan seterusnya.

[23] Lihat. Mafhum al-Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikr al-Islamiy al-Mu’ashir, hlm. 150-151; dan Hizb at-Tahrir al-Islamiy, hlm. 99. Kitab Ahkam ash-Shalah dikeluarkan atas nama Ali ar-Raghib, seorang Profesor (al-Ustadz) di Al-Azhar; kitab al-Fikr al-Islamiy dikeluarkan atas nama Muhammad Muhammad Ismail, seorang Profesor (al-Ustadz) menjabat asisten di Universitas Al-Mishriyah; kitab as-Siyasah al-Iqtishadi al-Mutsla dan Nizhom al-Uqubat dikeluarkan atas nama seorang pengacara, Abdurrahman al-Maliki; kitab Naqdhu al-Istirakiyan al-Markisiyah dikeluarkan atas nama Ghanim Abduh, kitab Kaifa Hudimat al-Khilafah dikeluarkan atas nama Asy-Syeikh Abdul Qadim Zallum; adapun kitab Naqdh al-Qanun al-Madaniy dan Ahkam al-Bayyinat dikeluarkan atas nama Asy-Syeikh Ahmad ad-Daur.

[24] Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islamiy, hlm. 98, 99, 139.

[25] Lihat. Idem, hlm. 12.

[26] Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islamiy, hlm. 28.

[27] Lihat. Idem, hlm. 21.

[28] Lihat. Al-Millaf al-Idariy, hlm. 65, 77, 82 dan seterusnya.

[29] Lihat. Tesis ini hlm. …………..

[30] Lihat Hizb at-Tahrir al-Islamiy, hlm. 124.

[31] Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islamiy, hlm. 147-148. Di antara yang menunjukan atas hal ini juga, bahwa Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani menyusun kitab Nizhom al-Iqtishadi fi al-Islam, namun dengan bentuk ringkasan, tidak memiliki banyak rincian. Pada tahun 1955 M. beliau diminta oleh anggota Hizbut Tahrir untuk mengkaji ulang dan memperluas isinya, agar berbeda dengan apa yang beliau tulis pada masa itu. Kemudian beliau menulis kembali kitab (Nizhom al-Iqtishadi fi al-Islam). Sebagian anggota Hizbut Tahrir menyebarkan draf-draf (konsep) kitab tersebut kepada sekumpulan ulama dan para spesialis untuk memberikan catatan-catatan mereka atas kitab itu. Di antara mereka adalah salah seorang ulama Irak yang sedang menjabat sebagai pimpinan para asy-Syeikh di An-Nashiriyah. Dan di antara mereka juga adalah DR. Ibrahim Uwais Ketua Jurusan Ekonomi di Universitas al-Azhar ketika itu. DR. Ibrahim Uwais ini adalah orang yang sangat terpengaruh dengan pemikiran Barat. Sementara yang memberikan draf-draf (konsep) kitab itu kepadanya adalah Muhammad Ubaid al-Bayati ketika DR. Ibrahim Uwais sedang berada di Lebanon. Setelah Hizbut Tahrir mengkaji dan meneliti catatan-catatan yang berhasil dikumpulkannya, baru Hizbut Tahrir mencetak (menerbitkan) kitab tersebut. (Wawancara dengan Pengacara Muhammad Ubaid al-Bayati).

[32] Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islamiy, hlm. 71.

[33] Lihat. Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, juz I, hlm. 29 dan seterusnya, 134, 142, 227, 362, 376, 389; Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, juz II, hlm. 103 dan seterusnya; Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, juz III, Taqiyuddin an-Nabhani, dikeluarkan Hizbut Tahrir, Dar al-Ummah, Beirut, cet. III (edisi Mu’tamadah), 1426 H./2005 M., hlm. 299, 307, 310; Nizhom al-Hukm fi al-Islam, hlm. 116 – 123; al-Fikr al-Islami, Muhammad Muhammad Ismail, Maktabah al-Wa’ie, 1377 H./1958 M., hlm. 28; Ahkam ash-Shalah, Ali ar-Raghib, Dar an-Nahdhah al-Islamiyah, Beirut, cet. I, 1412 H./1991 M., 79 dan seterusnya; dan Soal Jawab tanggal 8 Shafar 1391 H./4 April 1971 M..

[34]Llihat. Tesis ini, pada catatan kaki, hlm.

[35] Lihat. Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, juz III, hlm. 66-67; Nizhom al-Hukm fi al-Islam, hlm. 74, 88; Mafahim Hizb at-Tahrir, hlm. 7, 8, 36, 46, 71; Al-Fikr al-Islami, hlm. 37; Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani Fikran wa Kifahan, hlm. 19-20; Nizhom al-Iqtishadi fi al-Islam, Taqiyuddin an-Nabhani, dikeluarkan Hizbut Tahrir, Dar al-Ummah, Beirut, cet. VI (edisi Mu’tamadah), 1425 H./2004 M., hlm. 54; Muqaddimah ad-Dustur, hlm. 46-47; dan Soal Jawab tertanggal 8 Jumadzil Ula 1387 H./14 Agustus 1967 M..

[36] Lihat. Tesis ini halaman …..; Mafhum al-‘Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikr al-Islami al-Mu’ashir, hlm. 149; dan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani Fikran wa Kifahan, hlm. 12.

[37] Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 110.

[38] Lihat. Tha’atu Ulil Amri Hududuha wa Quyuduha, Lajnah ad-Difa’ ‘an al-Huquq asy-Syar’iyah, Prof. DR. Muhammad bin Abdullah al-Masraari, cet. III, 1423 H./2002 M., hlm. 5.

[39] Lihat. Mafahim al-Hizb at-Tahrir, hlm. 3-6; at-Takattul al-Hizbiy, hlm. 20-22; Naskah Pembelaan (pleidoi) yang disampaikan oleh salah satu anggota Hizbut Tahrir pada Pengadilan Tingkat Pertama Keamanan Negara di Damaskus tertanggal 6 Desember 1960; penjelasan Hizbut Tahrir yang ditujukan kepada Pemerintahan Yordania setelah adanya pelarangan terhadap Hizbut Tahrir, dikeluarkan Hizbut Tahrir tanggal 19 Ramadhan 1372 H./1 Juni 1953 M.; Hizbut Tahrir, hlm. 2, 6 dan 7; dan Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani Fikran wa Kifahan, hlm. 7, 8, 22.

[40] Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 111.

[41] Lihat. Program Syahid ‘ala al-Ashr, channel al-Jazirah, pada Sabtu sore16 April 2005.

[42] Lihat. Mafhum al-‘Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Fikr al-Islami al-Mu’ashir, hlm. 149; Atsar al-Jama’at al-Islamiyah al-Midani Khilala al-Qarn al-‘Isyrin, hlm. 233; Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 111-113; Wawancara dengan Ir. Hasan al-Hasan, perwakilan Hizbut Tahrir Uni Emirat Arab, koran az-Zaman, edisi 1953 tanggal 28 Oktober 2004; Wawancara dengan pengacara Muhammad Ubaid al-Bayati; Wawancara dengan Abdul Jabbar al-Kawazi, ketua penyiaran Hizbut Tahrir Irak, Baghdad, 22 Rabiul Awal 1326 H./1 Mei 2006 M.; dan Pengumuman Meninggalnya Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, dikeluarkan Hizbut Tahrir tanggal 2 Muharram 1398 H./12 Desember 1977 M..

[43] Lihat. Hizb at-Tahrir al-Islami, hlm. 8.

Artikel yang sama

Tak ada komentar

Tinggalkan Komentar