23/04/2014

Kebangkitan Hakiki Menurut Ahmad Al-Qashash

0161109
Ustadz Ahmad al-Qashash di dalam salah satu bukunya, Usus an-Nahdhah ar-Raasyidah (Pondasi Kebangkitan), menyatakan, “Faktor yang menentukan bangkit dan mundurnya suatu masyarakat adalah peradaban yang dimiliki masyarakat tersebut. Jika peradabannya tinggi, niscaya masyarakat di situ akan bangkit. Jika peradabannya mundur, mereka tidak akan pernah mengetahui kebangkitan. Ketika kita membicarakan peradaban yang ada di tengah-tengah masyarakat, berarti kita sedang membicarakan pandangan hidup (mafaahim, pemahaman), pola perilaku, dan pola hubungan yang menjadikan sebuah masyarakat memiliki kekhasan.”

Sebab, kenyataan menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi, majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, dan akhirnya dicapainya martabat mulia suatu bangsa melalui akhlak yang baik, ternyata hanyalah hasil dari adanya proses berpikir untuk memecahkan suatu problem kehidupan, yang dilakukan secara terus-menerus dan menyeluruh.

Pertanyaannya: berpikir tentang apa yang mampu memecahkan problem kehidupan?

Tidak lain adalah berpikir tentang alam semesta, manusia, kehidupan; apa-apa yang ada sebelum kehidupan dunia; apa-apa yang ada sesudah kehidupan dunia; serta keterkaitan ketiganya. Inilah yang disebut sebagai pemikiran menyeluruh (fikrah kulliyah) atau akidah, yakni pemikiran tentang kehidupan dunia (hakikat hidup), sebelum dan sesudahnya, serta hubungan antarkeduanya.

Fikrah atau pemikiran merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Dari fikrah itu dihasilkan berbagai kemajuan dan peningkatan taraf kehidupan. Oleh karena itu, kemajuan sains dan teknologi serta penemuan-penemuan baru pun hanya dapat dicapai bila fikrah ini sudah ada. Jika fikrah tidak ada, maka kemajuan sains dan teknologi juga tidak akan bisa dicapai. Demikian pula meningkatnya taraf kehidupan dan kejayaan ekonomi suatu bangsa dapat dicapai bila bangsa tersebut sudah memiliki kerangka berfikir atau fikrah kulliyah untuk maju. Tanpa adanya fikrah, maka kemajuan ekonomi hanya akan bersifat semu. Bahkan yang ada justru ketidakadilan ekonomi. Dengan demikian upaya untuk meraih kemajuan sains dan teknologi, industri dan kekuatan ekonomi kedudukannya jauh berada di bawah pemikiran menyeluruh atau fikrah kulliyah tersebut.

Dengan fikrah, jika kekayaan maadiyah (materi, atau yang bersifat benda-benda fisik), yang bisa berupa kemajuan sains dan teknologi maupun ekonomi yang dimiliki, merosot dan hancur, keadaan masyarakat masih bisa dipulihkan kembali, selama masyarakat masih memegang pemikirannya. Sebaliknya, jika fikrah telah rusak, maka secara berangsur-angsur kekayaan maadiyah (benda-benda fisik) tadi akan habis dan manusia kehilangan kreativitas untuk menemukan penemuan-penemuan yang baru, seperti kecenderungan yang kini tengah dialami oleh negara-negara di kawasan Teluk (seperti Kuwait, Arab Saudi dan sebagainya). Keadaan yang kedua inilah yang dialami kaum muslimin dewasa ini. Oleh karena itu, terbukti bahwa kemerosotan umat Islam akibat dari telah tercabutnya fikrah Islamiyyah, yang menyeluruh dan sempurna itu, dari dalam diri kaum muslimin.

Dengan demikian, kebangkitan Islam yang sangat didambakan itu hendaklah pada kebangkitan fikriyah. Yakni dengan terlebih dulu mengembalikan pemikiran menyeluruh Islam ke dalam diri umat. Pemikiran menyeluruh, yakni akidah Islam inilah yang dahulu telah membangkitkan dan kemudian menghantarkan umat Islam pada puncak kejayaan dunia, baik dari segi politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, maupun sosial budaya.

Kesimpulannya, kebangkitan hakiki hanya akan bisa didapat dengan kebangkitan pemikiran, bukan kebangkitan ekonomi, sains/teknologi, atau kebangkitan akhlak.