25/04/2014

MOTIF PERBUATAN MANUSIA

Tahukah Anda tentang motivasi manusia? Misalnya, apa motivasi saya menolong nenek-nenek menyeberang jalan? Biar dipuji orang, atau karena kasihan terhadap si nenek? Apa motivasi saya menghadiri halqah (kajian)? Karena biar tidak dibilang malas? Atau karena merasa tidak enak dengan musyrif-nya (ustadznya)? Mengapa seseorang kadang-kadang memiliki motivasi yang kuat, tetapi kadang-kadang motivasinya juga lemah?

Kuat dan lemahnya dorongan manusia untuk melakukan suatu aktivitas/perbuatan tidak terlepas dari motivasi (quwwah) yang menjadi landasan manusia dalam melakukan perbuatan. Motivasi ini juga sangat menentukan berhasil atau tidaknya perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Karena itu, memahami motivasi yang sahih dan kuat agar aktivitas yang kita lakukan dapat terealisir dengan baik dan sempurna, adalah wajib bagi setiap orang.

Menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan aktivitasnya, ada tiga, yaitu sebagai berikut.

a. Motivasi materi atau kebendaan (quwwatul madiyah), yang meliputi tubuh manusia dan alat yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya.

b. Motivasi emosional atau nonmateri (quwwatul ma’nawiyah), yang berupa kondisi kejiwaan yang senantiasa dicari dan ingin dimiliki oleh seseorang.

c. Motivasi spiritual (quwwatur ruhiyyah), yang berupa kesadaran seseorang, bahwa dirinya mempunyai hubungan erat dengan Allah Swt.

Tiga motivasi inilah yang mampu mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan.

Adapun pengaruh masing-masing motivasi tersebut berbeda antara satu dengan yang lain. Motivasi materi atau kebendaan mempunyai pengaruh yang lemah dan mudah dipatahkan. Sebab, motivasi materi atau kebendaan tersebut berasal dari kebutuhan jasmani atau naluri manusia, serta alat yang digunakan untuk memenuhi keduanya. Kadangkala kebutuhan jasmani atau naluri yang mendorong seseorang melakukan perbuatan, namun orang tersebut tidak memenuhinya, karena dia tidak memerlukannya, atau karena dapat menahan dorongan nafsunya.

Contoh:
Orang lapar, biasanya didorong oleh kebutuhan jasmaninya untuk makan, tetapi dorongan tersebut kadang bisa dia tahan, sehingga dorongan tersebut tidak dipenuhi dalam bentuk melakukan aktivitas makan.

Contoh lainnya begini:
Uang, mobil, rumah, atau barang-barang lainnya adalah alat yang dapat mendorong naluri manusia untuk memilikinya dengan melakukan aktivitas tertentu sehingga semuanya tadi bisa dia peroleh. Tetapi, motivasi materi atau kebendaan seperti ini kadangkala tidak mampu mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu. Orang yang diberi hadiah uang milyaran atau bahkan triliyunan rupiah, mobil mewah, rumah indah serta barang-barang mewah lainnya bersedia melakukan perbuatan tertentu, misalnya bersumpah palsu di pengadilan, membuat pengakuan palsu dan sebagainya, mungkin saja tidak bersedia melakukannya, hanya sekadar untuk mendapatkan materi tersebut, jika dia mempunyai kekuatan emosional, seperti takut berdusta, tidak ingin mengorbankan harga diri, atau karena tidak ingin dicap sebagai pengkhianat, pembohong dan sebagainya.

Inilah bentuk motivasi materi atau kebendaan yang mampu mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan. Motivasi seperti ini sangat lemah, mudah dipatahkan, dan hilang. Karena itu, jika perbuatan manusia dibangun berdasarkan motivasi seperti ini, pasti tidak akan pernah berhasil. Karena itu, motivasi seperti ini tidak bisa dijadikan sebagai landasan untuk membangun perbuatan yang mantap dan sahih dalam diri seseorang.

Sementara jika motivasi emosional atau psikologis (quwwatul ma’nawiyyah) dibandingkan dengan motivasi materi atau kebendaan, hasil atau pengaruhnya lebih kuat, meskipun sifat motivasi ini juga tidak konstan dan tahan lama. Sebab, motivasi tersebut merupakan kondisi kejiwaan atau psikologis seseorang yang sangat temporal. Contoh, perlawanan yang dilakukan seseorang kepada orang lain yang telah merusak nama baiknya adalah perbuatan yang didorong oleh kondisi kejiwaan atau psikologis seseorang. Begitu juga perlawanan yang dilakukan terhadap rezim yang zalim, yang dilakukan oleh sebuah bangsa yang tertindas adalah perbuatan yang dilakukan karena kondisi kejiwaan. Dukungan pada gerakan menentang penguasa zalim karena simpati kepada tokoh, atau karena menentang kesewenang-wenangan juga merupakan perbuatan yang didorong oleh motivasi psikologis, emosional atau ma’nawiyyah tadi. Untuk melakukan perbuatan tersebut seseorang kadang-kadang mampu mengorbankan materi, tenaga atau apa saja yang dia miliki. Namun, perbuatan yang dibangun berdasarkan motivasi tersebut bisa dipatahkan dan hilang, jika kondisi kejiwaan atau psikologis yang dihadapi seseorang berubah atau dialihkan pada kondisi psikologis yang lain.

Contoh:
Gerakan reformasi di Indonesia dan Malaysia. Rakyat Indonesia, secara psikologis merasa tertekan karena kejahatan Soeharto dan kroni-kroninya ketika mereka mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia untuk kepentingan pribadinya. Akibatnya jumlah rakyat miskin semakin banyak. Kondisi kejiwaan ini ditambah dengan krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada pertengahan tahun 1997, yang dianggap sebagai kesalahan pemerintahan Soeharto. Hal ini menyebabkan rakyat Indonesia semakin tertekan dan menderita. Kondisi inilah yang memicu lahirnya gerakan reformasi, hingga mengorbankan nyawa para “budak” reformasi. Namun setelah Soeharto berhasil diturunkan pada awal tahun 1998, gerakan yang banyak dipelopori kaum muslimin itu akhirnya terhenti, kehilangan orientasi, arah, dan tujuan yang jelas.

Demikian halnya yang terjadi di Malaysia. Gerakan ini berawal setelah Wakil Perdana Menteri, Anwar Ibrahim, dicopot dari seluruh jabatannya. Dukungan pada gerakan tersebut terus mengalir seperti gelombang lautan. Namun akhirnya sedikit demi sedikit menyusut setelah kondisi psikologisnya dialihkan oleh pemerintahan Mahatir Muhammad pada masalah persidangan kasus penyimpangan/skandal seks dan tuduhan suap atas diri Anwar. Maka, gerakan tersebut semakin menyusut dan bahkan mulai hilang semangatnya.

Inilah gambaran motivasi psikologis atau emosional. Motivasi ini berbeda dengan motivasi materi atau kebendaan. Sebab, mafhum (pemahaman) yang dijadikan sebagai landasan untuk memenuhinya lebih tinggi dibanding mafhum yang dijadikan landasan motivasi materi tersebut. Meskipun demikian, motivasi emosional atau psikologis ini tetap tidak bisa dijadikan landasan untuk membangun aktivitas manusia. Sebab, jika motivasi seperti ini digunakan untuk membangun perbuatan manusia, tentu juga tidak akan berhasil, meskipun mungkin ada yang berhasil.

Berbeda jika motivasi yang dijadikan sebagai landasan tersebut merupakan motivasi ruhiyah (spiritual), yaitu motivasi yang dibangun berdasarkan kesadaran akan perintah dan larangan Allah Swt. Motivasi ini adalah motivasi yang lahir dari kesadaran seorang muslim karena dirinya mempunyai hubungan dengan Allah, Zat Yang Maha Tahu seluruh perbuatannya, baik yang terlihat maupun tidak. Juga Zat Yang akan meminta pertanggungjawaban atas semua perbuatan-perbuatannya. Kesadaran inilah yang mampu mendorong manusia untuk melakukan perbuatan apa saja, meski pun untuk melakukannya dia harus mengorbankan jiwa, raga, dan hartanya.

Inilah motivasi yang dapat mengalahkan segala-galanya. Motivasi yang mampu mendorong manusia untuk melakukan perbuatan apa saja. Bahkan, perbuatan berat seberat apa pun, mampu dilakukannya. Karena motivasi seperti inilah, maka seseorang tidak akan pernah merasa putus asa atau menyesal ketika gagal, atau telah mengorbankan semua yang dimilikinya. Motivasi ini juga jauh lebih kuat pengaruhnya dibanding dengan motivasi-motivasi sebelumnya. Artinya, motivasi ini bersifat permanen, tidak temporal, dan konstan.

Contoh:
Kita bisa melihat pada motivitasi para sahabat ketika bersama Rasulullah saw. pergi berjihad ke medan Perang Badar. Jumlah pasukan kaum muslimin waktu itu hanya 300 lebih beberapa puluh orang saja, sedangkan jumlah pasukan kaum kafir Quraisy lebih dari 1.000 orang. Sebagai manusia biasa, Rasul saw. waktu itu ragu dengan keadaan kaum muslimin. Beliau khawatir jika kaum muslimin kehilangan nyali dengan melihat jumlah mereka yang lebih kecil dibanding jumlah musuhnya yang tiga kali lipat lebih besar dibanding jumlah mereka. Kekhawatiran beliau saw. tersebut terlihat dari tindakannya, yaitu ketika mengajak kaum muslimin melakukan musyawarah sebanyak tiga kali yang membahas permasalahan yang sama. Sampai akhirnya orang-orang Anshar sadar, bahwa yang beliau saw. inginkan sebenarnya adalah sikap mereka.

Waktu itu, Sa’ad bin Mu’adz (pemimpin kaum Anshar) berkata kepada Nabi Muhammad saw.:
Sepertinya Anda ragu pada kami, wahai Rasulullah. Anda juga sepertinya khawatir, bahwa orang-orang Anshar, sebagaimana yang terlihat dalam pandangan Anda, tidak akan menolong Anda, kecuali di negeri mereka. Saya bicara atas nama orang-orang Anshar, dan memberi jawaban berdasarkan sikap mereka. Bawalah kami pergi bersama Anda sebagaimana yang Anda kehendaki. Ikatlah tali siapa pun yang Anda kehendaki. Dan putuskanlah ikatan siapa saja yang Anda kehendaki. Dan ambillah dari harta siapa pun di antara kami yang Anda kehendaki. Dan berikanlah mana saja yang Anda kehendaki. Apa pun yang Anda ambil, niscaya lebih kami sukai daripada yang Anda tinggalkan. Demi Allah, kalau seandainya Anda menempuh perjalanan bersama kami hingga ke Barak Al Ghamad (sebuah kota di Ethiopia), pasti kami semua akan tetap bersama Anda. Dan demi Allah! Seandainya Anda mengajak kami untuk menyeberangi lautan sekali pun, pasti akan kami seberangi bersama Anda.”’

Pernyataan sikap Sa’ad bin Mu’adz ini kemudian dipertegas oleh Miqdad bin Al Aswad:
Maka, kami tidak akan mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Nabi Musa as. kepada beliau: ‘Pergilah Anda bersama Tuhan Anda, dan berperanglah Anda (bersama Tuhan Anda). Sedangkan kami di sini saja, berdiam diri (melihat Anda berperang).’’ Tidak. Kami tidak akan seperti itu. Tetapi kami siap berperang di depan, di belakang, di samping kanan dan kiri Anda.

Setelah itu, mendadak raut muka Rasul saw. berubah menjadi berseri-seri setelah mendengarkan pernyataan sikap mereka. Nabi saw. tidak khawatir lagi, apalagi takut dengan jumlah kaum Quraisy yang kecil itu. Sebab, Nabi saw. telah mengetahui motivasi mereka berperang bukan karena materi, yaitu karena jumlah mereka sedikit, maupun karena motivasi emosional, melainkan semata-mata motivasi spiritual, yaitu karena taat dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Mereka telah bersumpah untuk berperang bersama Nabi saw. meskipun dengan berbagai kesulitan yang akan mereka tanggung dan hadapi.

Dengan demikian, motivasi yang sahih dan kuat untuk membangun aktivitas manusia sehingga berhasil merealisasikan tujuannya adalah motivasi spiritual. Dengan motivasi tersebut seseorang akan terus-menerus berusaha tanpa mengenal lelah dan putus asa sampai akhirnya dengan izin Allah Swt. berhasil merealisasikan apa yang dicita-citakannya. Maka, motivasi inilah yang seharusnya dipahami dan dimiliki oleh kaum muslimin dalam melakukan berbagai perbuatan. Jika motivasi ini dimiliki oleh kaum muslimin saat ini, meskipun secara materi mereka kalah karena ketertinggalan mereka di bidang sains dan teknologi, tentu mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk mengorbankan apa saja yang mereka miliki demi mengembalikan kejayaan Islam, mendirikan Khilafah Islam dan mengambil kembali kendali dunia dari tangan adidaya kafir, Amerika dan sekutunya. Dengan begitu mereka tidak akan hidup terhina dan miskin sebagaimana yang mereka alami saat ini.

Wallahu a’lam.